Oxamniquine


Oxamniquine digunakan untuk pengobatan schistosomiasis (bilharziasis) yang disebabkan oleh Schistosoma mansoni dalam program pengobatan dan pengendalian massa. Oxamniquine efektif terhadap semua tahap infeksi Schistosoma mansoni termasuk fase akut dan fase kronis.,Penyakit ini disebabkan oleh cacing kecil yang disebut schistosomes yang dapat hidup di air. Parasit ini dapat dengan cepat menembus kulit manusia dalam bentuk larva dan begitu masuk ke dalam aliran darah manusia akan berubah menjadi cacing dewasa. Cacing dewasa betina menghasilkan telur dan akan terjebak pada jaringan atau organ manusia sehingga menyebabkan inflamasi yang berlangsung lama.

Ada lima spesies sistosoma yang distribusi dan prevelensinya berada menurut lokasinya di dunia 

serta mengakibatkan gejala yang berbeda pula yaitu:

  • 1)       S. mansoni yang tersebar lebih luas di Afrika, semenajung Arabia dan Laut Tengah bagian Timur, Amerika Selatan (Brazilia, Venezuela dan Suriname), dan kepulauan Caribia (Puetro Rico, tanpa Cuba). S. mansoni paling luas penyebarannya di duna. Sistoma ini hanya dapat menginfeksi manusia dan rodensia.
    2)       S. hematobium yang dominan di Afrika dan Laut Tengah bagian Timur
    3)       S. japanicum yang distribusinya terbesar di Cina, Filipina, dan Asia Tenggara (Kamboja, Laos,Thailand, dan Indonesia) yang dapat menginfeksi selain manusia juga menginfeksi babi, anjing, dan kerbau air.
    4)       S. mekongki  yang hanya prevalen di delta sungai Mekong di Thailand, Kamboja, dan Laos.
    5)       S. intercalatum yang ditemukan di Afrika Tengah.
        

    Pada awal 1960-an satu-satunya obat yang tersedia adalah lucanthone trisiklik dan antimonial seperti stibocaptate. Namun kedua obat ini memiliki efek samping yang cukup besar. Pada tahun 1964, Pfizer memprakarsai sebuah proyek yang bertujuan untuk mengembangkan obat baru bagi penyakit schistosomiasis, lalu ditemukanlah obat oxamniquine.
     

       Oxamniquine sekarang diketahui menghambat sintesis asam nukleat di sel skistosomal. Mekanisme aksinya diduga melibatkan aktivasi enzim sulphotransferase yang ada pada sel parasit. Setelah oxamniquine terikat pada site aktif dari enzim schistosomal gugus hidroksil dirubah menjadi ester sulfat. Dimana struktur akhir yang terbentuk adalah sebuah zat alkilasi yang akan mengalkilasi DNA parasit dan mencegah replikasi DNA parasit.

     
    Mekanisme aksi Oxaminiqiune
      Salah satu metode untuk mensintesis oxamniquine adalah dimulai dari struktur kuinolin (I).
    Substituen metil pada cincin heterosiklik secara selekif diklorinasi dan alkil klorida (II) mengalami substitusi nukleofilik dengan 2-aminopropana untuk membentuk struktur III. Reduksi dengan gas hidrogen menggunakan katalis nikel membentuk tetrahydroquinoline (IV), dimana nitrat untuk memberi campuran isomer. Ini terpisah dan isomer yang diinginkan kemudian mengalami hidroksilasi dengan adanya jamur Aspergillus sclerotiorum. Enzim mikroba mengkatalis reaksi oksidasi.
    Turunan Oxamniquine disintesis dan dievaluasi sebagai agen schistosomicide baru. Oxamniquine (1,2,3,4-tetrahydro-2 - [[1-methylethyl) amino] methyl] -7-nitro-6-quinolinemethanol) diajukan ke reaksi Mannich, menggunakan formaldehida, paraformaldehida dan asetaldehida sebagai reagen, dan memberi tiga produk tak terduga: dua di antaranya di siklized pada rantai samping alkilamina dan yang lainnya di eterifikasi pada kelompok aminaquinolinemethanol. Ketiga senyawa tersebut secara biologis dievaluasi dengan menggunakan tikus yang terinfeksi dengan Schistosoma mansoni dan menunjukkan aktivitas yang menjanjikan, namun memiliki toksisitas yang lebih tinggi. Untuk studi tentang hubungan aktivitas struktur, hasil menunjukkan bahwa gugus alkilamin samping dapat dimodifikasi dengan aktivitas yang diawetkan, namun modifikasi ini dikaitkan dengan peningkatan toksisitas.


    DAFTAR PUSTAKA
    Kee, Joyce L, dan Evelyn R. Hayes.1996. Farmakologi. Jakarta: EGC
    Siswandonodkk,2000. Kimia Medisinal 2.Surabaya: Universitas Airlangga Press

    Dari artikel ,Masalah yang muncul sebagai berikut :
      1.      Sebutkan kontraindikasi dari obat ini?
      2.      Apakah Obat ini boleh dikonsumsi ibu hamil?
      3.      Sebutkan interaksi obat ini dengan obat lain

      4.apa efek samping dari obat ini?
      5.Apakah obat ini banyak dijual dipasaran? 
      6.Bagaimana cara mengidentifikasi farmakofor dari obat tersebut .
      7.Berapakah dosis oxamniquine yg d berikan untuk pengobatan schistosomiasis ?
     

     
     
     

     

     

Komentar

  1. Saya akan mencoba menjawab apakah bisa d konsumsi org hamil? Mnrt saya bisa di konsultasikan pada dokter karna dosis yg di berikan itu sesuai dengan kondisi pasien trsbt.
    Trimakasih

    BalasHapus
  2. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no4 efek samping dari oxamniquine:
    Pusing
    Kantuk
    Sakit kepala
    Perubahan perilaku
    Perangsangan
    Halusinasi

    BalasHapus
  3. saya akan menjawab dari masalah yang ada pada artikel oxamniquine ini .pada pertanyaan no 1
    kontraindikasinya : Obat tersebut harus digunakan dengan hati-hati di / pasien dengan riwayat gangguan kejang / dan harus tetap berada di bawah pengawasan medis dengan fasilitas yang memadai yang tersedia untuk penanganan kejang jika terjadi selama terapi oxamniquine.McEvoy, G.K. (ed.).

    BalasHapus
  4. saya ingin mnjwab pertanyaan nomor 3
    menurt yang saya baca Jika Anda mengalami rasa kantuk, pusing, hipotensi atau pusing sebagai efek samping saat memakan obat Oxamniquine maka tidak aman untuk mengemudi kendaraan atau mengoperasikan alat berat. Seseorang tidak boleh mengendarai kendaraan jika memakan obat membuat Anda mengantuk, pusing atau menurunkan tekanan darah Anda secara berkepanjangan. Dokter juga menyarankan pasien untuk tidak meminum alkohol dengan obat karena alkohol meningkatkan efek samping kantuk. Mohon cek efek-efek ini pada tubuh Anda saat menggunakan Oxamniquine. Selalu konsultasi dengan dokter Anda untuk rekomendasi yang spesifik pada tubuh dan kondisi kesehatan Anda

    BalasHapus
  5. 4. Pusing dengan atau tanpa kantuk terjadi dalam setidaknya 1/3 pasien. Awal hingga 3 jam setelah dosis dan biasanya berlangsung selama 6 jam. Sakit kepala dan efek GI seperti mual, muntah, diare.

    BalasHapus
  6. 5. sepertinya saat ini oxamniquine jarang dijual dipasaran

    BalasHapus
  7. 7. dosis tunggal 40mg/kgBB atau dosis tunggal 20mg/kgBB tang di ulangi lagi sesudah 4-6jam

    BalasHapus
  8. 2. Oxamniquine merupakan obat untuk penderita schistosomiasis Menurut WHO obat ini bisa diberikan pada ibu hamil, dengan dosis yang sesuai

    BalasHapus
  9. No. 5 sepertinya oxaminiquine saat ini masih jarang dipasaran, saat ini obat yang sering digunakan yaitu Piraziquantel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar apa yang di sampaikan nadya bahwa yang umum di pasaran saat ini praziquantel. Prazikuantel efektif pada terapi infeksi skistosoma yang disebabkan oleh semua spesies dan kebanyakan infekksi trematoda dan cestoda lainnya, termasuk sistiserkosis. Keamanan dan efektifitas dosis tunggal per oral obat ini juga membuatnya bermanfaat pada terapi massal beberapa infeksi

      Hapus
  10. Saya akan menjawab nmr 6, bagian yg dapat diidentifikasi adalah bagian cincin aromatik ya dan juga bagian atom nitrogen dengan elektron bebasnya tami, sehingga dapat pula dilakukan modifikasi di bagian tersebut

    BalasHapus
  11. Saya ingin menjawab pertanyaan nomor 7.
    Dosis sekali 12-15 mg/kg/hari. Ada juga yang memberikan 40-60 mg/kg/hari dosis terbagi 2 atau 3 selama 2-3 hari, diberikan bersama makanan.

    BalasHapus
  12. efek samping yang memungkinkan yang dapat terjadi dalam obat-obat yang mengandung Oxamniquine. Ini bukanlah daftar yang komprehensif. Efek-efek samping ini memungkinkan, tetapi tidak selalu terjadi. Beberapa efek samping ini langka tetapi serius. Konsultasi pada dokter Anda jika Anda melihat efek samping berikut, terutama jika efek samping tidak hilang.
    Pusing
    Kantuk
    Sakit kepala
    Perubahan perilaku
    Perangsangan
    Halusinasi

    BalasHapus
  13. menurut saya jawaban no 1 yaitu kontraindikasi yang paling sering terjadi yaitu terhadap gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati. Jadi sebaiknya jangan diberikan kepada pasien yang memiliki permasalahan terhadap organ tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan tari, selain itu kontraindikasi lain yitu penderita epilepsi

      Hapus

Posting Komentar