PENGGOLONGAN ANALGETIKA
PENGGOLONGAN
ANALGETIK
Analgetika adalah senyawa yang dapat menekan fungsi SSP secara
selektif, digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadaran.
A. Analgetika Narkotik
Analgetika Narkotik adalah senyawa
yang dapat menekan fungsi Sistem Saraf Pusat
secara selektif, digunakan untuk mengurangi rasa sakit, yang moderat ataupun
berat. Mekanisme Kerja analgetika narkotik yaitu efek analgesic dihasilkan oleh
adanya pengikatan obat dengan sisi reseptor khas pada sel dalam otak dan spinal
cord. Rangsangan reseptor juga menimbulkan efek euphoria dan rasa
mengantuk.
Berdasarkan struktur kimianya
analgetika narkotik dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu :
1. Turunan Morfin
Bekerja
dengan jalan menduduki reseptor-reseptor nyeri di SSP,hingga perasaan nyeri
dapat diblokir. Khasiat analgetik opioid berdasarkan kemampuannya untuk
menduduki sisa-sisa reseptor nyeri yang belum ditempati endorfin. Apabila
analgetik digunakan terus-menerus ,pembentukan reseptor-reseptor baru
distimulasi dan produksi endofrin di ujun g saraf otak dirintangi,akibatnya
terjadilah kebiasaan,ketagian dan ketergantungan
Hubungan Struktur Aktifitas Turunan Morfin
- · Eterifikasi dan esterifikasi gugus hidroksil fenol akan menurunkan aktivitas analgesik
- · Eterifikasi, esterifikasi, oksidasi atau penggantian gugus hidroksil alkohol dengan halogen atau hydrogen dapat meningkatkan aktivitas analgesik
- Perubahan gugus hidroksil alkohol dari posisi 6 ke posisi 8 menurunkan aktivitas analgesik secara drastis
- · Pengubahan konfigurasi hidroksil pada C6 dapat meningkatkan aktivitas analgesic
- · Hidrogenisasi ikatan rangkap C7 dan C8
- · Substansi pada cincin aromatik akan mengurangi aktivitas analgesic
- · Pemecahan jembatan eter antara C4 dan C5 menurunkan aktivitas
- · Pembukaan cincin piperidin menyebabkan penurunan aktivitas
-
Hubungan perubahan struktur dan aktivitas turunan morfin :
2. Turunan Meperidin
Menimbulkan efek analgesic antara morfin dan kodein
.Meperidin digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada kasus obsetri dan untuk pramedikasi pada anestesi. Sering
digunakan sebagai obat pengganti morfin untuk pengobatan penderita kecanduan
turunan morfin
Hubungan struktur dan aktivitas turunan meperidin dapat
dilihat ditabel berikut :
3. Turunan Metadon
Mempunyai efek analgesic mirip morfin, tetapi tidak begitu
menimbulkan efek sedative. Dieliminasi dari tubuh lebih lambat dari morfin
(waktu paruhnya 25 jam) dan gejala withdrawal-nya tak sehebat morfin, tetapi
terjadi dalam jangka waktu lebih lama. Diberikan secara per oral, injeksi IM,
dan SC. Diindikasikan untuk analgesic pada nyeri hebat, dan juga digunakan
untuk mengobati ketergantungan heroin.
Mekanisme kerja : Metadon mempunyai
kerja yang paling besar pada reseptor µ. Efek : aktivitas analgesik
metadon ekuivalen dengan morfin. Metadon memperlihatkan efek analgesik kuat
bila diberikan peroral, sebaliknya dengan morfin, yang hanya sebagian
diabsorbsi dari saluran cerna. Efek miotik dan depresi pemapasan metadon
mempunyai waktu paruh rata-rata 24 jam. Seperti morfin, metadon meningkatkan
tekanan bilier, dan juga konstipasi
B. Analgetika Non Narkotik
Analgetika non narkotik digunakan untuk mengurangi rasa
sakit yang ringan sampai moderet. Analgetik non-narkotik bekerja menghambat
enzim siklooksigenase dalam rangka menekan sintesis prostaglandin yang berperan
dalam stimulus nyeri dan demam. Karena itu kebanyakan analgetik non-narkotik
juga bekerja antipiretik. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat
Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit
tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek
menurunkan tingkat kesadaran
Berdasarkan struktur kimianya Analgetika non narkotik dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu :
1. Analgetik-
Antipiretika
a Turunan
anilin dan para –aminofenol
Turunannya
seperti acetaminofen,asetanilid, dan fanasetin,mempunyai aktivitas
analgesik-antipiretik sebanding dengan aspirin,tetapi tidak mempunyai efek
antiradang dan antirematik. Turunan ini digunakan untuk mengurangi rasa nyeri
kepala dan nyeri pada otot atau sendi, dan obat penurun panas yang cukup baik.
Efek samping yang ditimbulkan antara lain adalah methoglobin dan hepatotoksik.
b. Turunan 5-Pirazolon
Turunannya
seperti antipirin, amindopirin dan metampiron,aspirin. Turunan ini digunakan
untuk mengurangi rasa sakit pada keadaan nyyeri kepala,nyeri spasma usus,
ginjal, saluran empedu, dan urin,neuralgia, migrain, dismenorhu,nyeri gigi,dan
nyeri rematik. Efek samping yang ditimbulkan oleh turunan 5-pirazolon adalah
agranulositosis,yang dalam beberapa kasus dapat berakibat fatal. Di pasaran
piralozon terdapat dalam antalgin, neuralgin, dan novalgin. Obat ini amat
manjur sebagai penurun panas dan penghilang rasa nyeri. Namun piralozon
diketahui menimbulkan efek berbahaya yakni agranulositosis (berkurangnya sel
darah putih), karena itu penggunaan analgesik yang mengandung piralozon perlu
disertai resep dokter.
2. Obat
Antiradang Bukan Steroid
a.
Turunan Asam Salisilat
Hubungan struktur aktivitas turunan asam salisilat
Senyawa
yang aktif sebagai antiradang adalah anioin salisilat. Gugus karboksilat
penting untuk aktivitas dan letak gugus hidroksil harus berdekatan dengannya.
Turunan
halogen, seperti asam 5-klorsalisilat, dapat meningkatkan aktivitas tetapi
menimbulkan toksisitas lebih besar.
Adanya gugus amino pada posisi 4 akan menghilangkan
aktivitas.
Pemasukan gugus metal pada posisi 3 menyebabkan metabolisme
atau hidrolisis gugus asetil menjadi lebih lambat sehingga masa kerja obat
menjadi lebih panjang.
Adanya gugus aril yang bersifat hidrofob pada posisi 5 dapat
meningkatkan aktivitas.
Contoh : Aspirin, Salisilamid dan Diflunisal
b. Turunan 5-Pirazolon
Turunan ini digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada keadaan
nyeri kepala, nyeri pada spasma usus,ginjal, saluran empedu dan urin,
neuralgia, migraine, dismenor, nyeri gigi da nyeri pada rematik. Efek samping
yang ditimbulkan adalah agranulositosis.
c.
Turunan Asam N-Arilantranilat
Turunan Asam N-antranilat terutama digunakan sebagai
antiradang untuk pengobatan rematik, dan sebagai analgesic untuk mengurangi
rasa nyeri yang ringan dan moderat. Turunan ini menimbulkan efek samping
iritasi saluran cerna, mual, diare, anemia.
Hubungan
struktur aktivitas asam N-antranilat :
Turunan asam N-antranilat mempunyai
aktifitas yang lebih tinggi bila pada cincin benzene yang terikat atom N
mempunyai substituent-substituen pada posisi 2,3 dan6.
Yang aktif adalah turunan senyawa 2,3-disubstitusi. Hal ini menunjukan
bahwa senyawa mempunyai aktifitas yang lebih besar apabila gugus – gugus pada
N-aril berada diluar koplanaritas asam antranilat. Struktur tidak planar
tersebut sesuai dengan tempat reseptor hipotetik antiradang.
Contoh : adanya substituent orto-metil pada asam mefenamat
dan orto-chlor pada asam meklofenamat akan meningkatkan aktifitas analgesic.
Penggantian atom N pada asam antranilat dengan
gugus-gugus isosterik seperti O, S, dan CH2 dapat menurunkan
aktifitas.
d. Turunan
Asam Arilasetat
Hubungan struktur aktivitas
turunan asam arilasetat :
Turunan asam arilasetat secara umum mempunyai gambaran
struktur sebagai berikut :
Mempunyai gugus karboksil atau
ekivalennya seperti asam enolat, asam hidroksamat, sulfonamide dan tetrasol,
yang terpisah oleh satu atom C dari inti aromatic datar. Pemisahan dengan lebih
dari satu atom C misal pada turunan asam propionate atau butirat akan
menurunkan aktivitas.
Adanya gugus α-metil pada rantai samping
asetat dapat meningkatkan aktivitas antiradangnya. Contohnya ibufenak tidak
mempunyai gugus α-metil dab bersifat hepatotoksik, turunan α-metilnya
(ibuprofen) mempunyai aktivitas antiradang lebih tinggi daripada ibufenak.
Makin panjang jumlah atom C aktivitasnya makin menurun.
Adanya α-substitusi menyebabkan
senyawa bersifat optis aktif dan kadang-kadang isomer 1 lebih aktif dibanding
yang lain. Konfigurasi yang aktif adalah bentuk isomer S. contoh : S (+)
ibuprofen lebih aktif dibanding isomer (-), sedang isomer (+) dan (-)
fenoprofen mempunyai aktivitas yang sama.
Turunan ester dan amida juga
mempunyai aktivitas antiradang karena secara invivo dihidrolisis menjadi bentuk
asamnya. Demikian pula untuk turunan alcohol dan aldehida, secara invivo
dioksidasi menjadi gugus karboksil.
e. Turunan Oksikam
Turunan ini umumnya bersifat asam, mempunyai efek
antiradang, analgesic dan antipiretik, efektif untuk pengobatan simptomatik
rematik, arthritis, osteoarthritis dan antipirai.
Contoh : piroksikam, tenoksikam dan isoksikam
f.
Turunan asam heteroarilasetat
Hubungan struktur-aktivitas
turunan asam heteroarilasetat
Pada turunan heteroarilasetat, seperti indometasin
(areumatin), gugus karboksil penting untuk aktivitas antiradang, penggantian
dengan radang lain akan menurunkan aktivitas.
Penggantian gugus C=O (X) dengan -CH2-akan
menurunkan aktivitas. Adanya gugus para halogen (R3), CF3 dan
SCH3 dapat meningkatkan aktivitas
Penggantian gugus metil (R2) dengan gugus aril akan
menurunkan aktivitasnya
Adanya gugus α-metil pada R1 menunjukkan aktivitas yang sama
dengan senyawa induk, sedang pemasukan α,α- dimetil akan mengurangi aktivitas.
Turunan Isosterik 1-indeninindenil mempunyai aktivitas yang
serupa dengan indometasin. Hilangnya atom N-heterosiklik menurunkan efek
samping gejala pada system saraf pusat dan mengurangi efek iritasi lambung.
Meskipun demikian, metabolitnya tidak larut dalam urin dan pada dosis tinggi
menyebabkan kristal uria sehingga tidak digunakan lagi dalam klinik.
Penggantian gugus metoksi dengan gugus F (R2) dan gugus Cl
dengan gugus metil sulfinil (R3), seperti yang terlihat pada sulindak, akan
meningkatkan kelarutan dalam urin dan menurunkan efek samping iritasi lambung.
Daftar
Pustaka
Ganiswarna,
1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4 . Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
Siswandonodkk,2000. Kimia Medisinal 2.Surabaya: Universitas Airlangga Press
Dari artikel diatas ,timbul masalah sebagai berikut :
1.Sebutkan contoh obat analgetik,analgetik narkotik
dan analgetik non narkotik dan mekanisme nya?
2.Jelaskan efek samping morfin bagi penggunaan nya
dan mekanisme kerja morfin tersebut
3.Sebutkan obat analgetik non narkotik dan sediaan
nya berupa aapa saja yang beredar dipasaran?
4.Sebutkan efek samping dari aspirin dan peroksikam
5.Sebutkan mekanisme anti piretik dan anti radang
dan contoh obat nya
6.Sebutkan interaksi obat analgetik dan berikan contoh nya
7.Bagaimana metabolisme dan rute elimasi dari analgetik turunan asam salisilat8.Apakah analgetik narkotik dan non-narkotik bisa dikombinasi penggunaan? Dpt menimbulkan bahaya atau tidak?
9. Bagaimana mekanisme koyo sebagai analgetik
Saya akan mencoba mnjawab pertanyaan no 4 efek samping piroksikam Seperti halnya obat-obatan lain, Piroxicam juga dapat menyebabkan efek samping, meski tidak semua orang mengalaminya. Adapun efek samping yang umum adalah sembelit, diare, pusing, kembung, sakit kepala, mulas, mual, sakit perut, muntah.
BalasHapusDan efek samping aspirin adalah Alergi berupa biduran hingga sindrom Steven–Johnsons
Serangan asma dan sesak napas
Rasa tidak nyaman pada lambung
Perdarahan spontan dan perdarahan saluran cerna
Gangguang fungsi hati
Gangguang fungsi ginjal
Terimakasih.
Saya akan mencoba menjawab pertnyaan no 6 yaitu interaksi obat analgetik dan contoh nya :
BalasHapus1.Asam mefenamat : interaksi dgn Obat-obat anti koagulan oral seperti warfarin; asetosal (aspirin) dan insulin.
2. Parasetamol :
Interaksi
- resin penukar ion, kolesteramin, menurnkan absorbs paracetamol
- antikoagulan :pengunaan paracetamol secara rutin dapat menyebabkan peningkatan kadar warfarin.
- metoklorpropamid dan domperidon : metoklorpropamid mempercepat absorbs paracetamol (meningkatkan efek )
3.Aspirin : Interaksi obat
Dengan Obat Lain : Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga dapat meningkatkan toksisitas allopurinol.
Chlorpropamide : Meningkatkan reaksi hepatorenal, monitor hipoglikemi.
Obat lain : Cotrimoxazole : Trombositopenia Cyclosporin : Meningkatkan konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian dosis) .
4. Ibuprofen : Antikoagulan & antitrombotik : Meningkatkan efek samping perdarahan saluran cerna.
Aspirin : Meningkatkan efek samping & menurunkan efek kardioprotektif dari aspirin.
Litium : Meningkatkan konsentrasi litium dalam plasma & serum dan dapat menurunkan klirens.
5. Na-diklofenak : Antikoagulan : Dapat memperparah perdarahan saluran cerna.
Metotreksat : Meningkatkan konsentrasi metotreksat.
Glikosida jantung : Meningkatkan toksisitas glikosida jantung.
Diuretik : Secara bersamaan dengan HCT, meningkatkan kadar kalium dalam serum, dengan triamterene meningkatkan resiko kerusakan ginjal.
NSAID : Penggunaan bersama aspirin dapat meningkatkan eksresi diklofenak melalui empedu.
Siklosporin : Meningkatkan efek nefrotoksik siklosporin.
Litium :Meningkatkan konsentrasi plasma litium dan menurunkan klirens litium.
Antidiabet :Kasus hipoglikemik & hiperglikemi (jarang terjadi)
Kuinolon : Dapat meningkatkan resiko stimulasi sistem saraf pusat
Antasid : Dapat menunda absorpsi diklofenak.
Kortikosteroid : Meningkatkan resiko ulser saluran cerna
BalasHapusMenurut pengetahuan saya dan dr sumber2 yg saya dapat obat analgetik non narkotik dan sediaan nya ada beberapa macam
*as mefenamat
Mefanol, Ponstel, Ponstan, stanalin ds, etafenin, yekapons, witranal, tropistan, tifestan, teamic, stelpon, stanza
*Paracetamol
a. parasetamol (generik)
b. afebrin (konimex) tablet 500mg
c. afidol (afiat) tablet 500mg
d. biogesik (medifarma) sirup 150mg/5 ml dan tablet 500 mg
e. bodrex (tempo) tablet 500 mg
f. dumin (dumex) sirup 120mg/5 ml dan tablet 500 mg
g. fasidol (ifars) sirup 150mg/5 ml dan tablet 500 mg
h. itramol (itrasal) sirup 120mg/5 ml
*Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal)
Contoh produk yang ada dipasaran
- Aptor - Aspilets - Aspimec - Aspirin Bayer
- Astika - Bodrexin - Cardio Aspirin - Farmasal
- Procardin - Restor - Thrombo Aspilets - Ascardia
*Ibuprofen
Contoh produk yang ada dipasaran
- Dofen - Dolofen Forte - Farsifen - Febryn
- Fenris - Helafen - Iprox - Nofena
- Ostarin - Profen - Proris - Ribunalm Shelrofen
- Anafen
*Na-diklofenak
Contoh obat yang ada dipasaran
- Alflam - Atranac - Berifen SR - Cataflam
- Cataflam D - Catanac - Deflamat - Dicloflam
- Diclomec - Diclomec Gel - Exaflam - Fenaren
- Fenavel - Flamenac - Kadiflam - Kaditic
- K Diklofenak - Klotaren - Laflanac - Matsunaflam
- Megatic - Merflam - Nadifen - Neuorofenac
- Nichoflam - Nilaren - Potazen - Prostanac
- Provoltar - Reclofen - Renadinac - Renvol
- Scanaflam - Scanteran - Tirmaclo - Valto
- Volmatik - Voltadex - Voltadex SR - Voltaren
- Voren - X-flam - Xepathritis - Zegren
- Adiflam
selamat malam
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2
Mekanisme Kerja Morfin :
Bekerja dengan jalan menduduki reseptor-reseptor nyeri di SSP, hingga perasaan nyeri dapat diblokir. Khasiat analgetik opioid berdasarkan kemampuannya untuk menduduki sisa-sisa reseptor nyeri yang belum ditempati endorfin. Apabila analgetik digunakan terus-menerus ,pembentukan reseptor-reseptor baru distimulasi dan produksi endofrin di ujung saraf otak dirintangi,akibatnya terjadilah kebiasaan,ketagian dan ketergantungan.
Efek kerja dari morfin (dan juga opioid pada umumnya) relatife selektif, yakni tidak begitu mempengaruhi unsur sensoris lain, yaitu rasa raba, rasa getar (vibrasi), penglihatan dan pendengaran ; bahakan persepsi nyeripun tidak selalu hilang setelah pemberian morfin dosis terapi.
Efek analgesik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme ; (1) morfin meninggikan ambang rangsang nyeri ; (2) morfin dapat mempengaharui emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari thalamus ; (3) morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat.
Sama seperti obat-obat lainnya, morfin juga berpotensi menyebabkan efek samping. Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah mengonsumsi morfin antara lain adalah:
Mengantuk.
Pusing atau sakit kepala.
Mual.
Sembelit.
Sulit buang air kecil.
Gangguan tidur.
Mulut terasa kering.
Tubuh berkeringat.
Biasanya efek samping akan hilang dengan sendirinya setelah tubuh menyesuaikan diri dengan obat.
hay kak,
Hapussaya akan menambahkan jawaban no 2.
Menurut Taketomo (2002), mekanisme morfin adalah berikatan dengan reseptor opioid pada SSP ,menghambat jalur nyeri,mengubah persepsi dan respon terhadap rasa sakit menghasilkan defresi umum SSP.
Menurut Farmakope (2009),efek samping dari morfin adalah alergi,(seperti mual,muntah) ,tekanan darah menurun ,syok, pupil mengecil, kulit dingin dan frekuensi nafas lambat.
Saya akan menambahkan sebelum ngentahui efek samping dri aspirin kita harus tau dahulu apa itu obat aspirin, dan menurut yg saya baca Aspirin adalah obat antiinflamasi yang menghambat pembentukan prostaglandin. Aspirin bekerja dengan cara menghambat enzim COX (siklooksigenase). Sistem enzim COX merupakan enzim yang berperan dalam pembentukan prostaglandin, dengan kerja penghambatan ini maka Aspirin dapat menghasilkan efek analgesik, antipiretik, antiinflamasi, dan antitrombotik.
BalasHapusTrimakasih
saya ingin menjawab pertanyaan nomor 9
BalasHapusseperti kita tau koyo langsung melekat di permukaan kulit dan langsung ke organ yang di tuju dengan meresapnya panas, mnrt yang saya baca, mekanisme koyo sebagai analgetik tentunya sama saja dengan mekanisme pada umumnya yang mmbedakan hanya koyo melalui kulit dengan meresapnya panas, mohon di koreksi jika salah
4. beberapa efek samping aspirin
BalasHapusAsma
Rasa pusing
Mual
Muntah
Pencernaan yg terganggu
gagal ginjal
beberapa efek samping peroksikam
Perut kembung.
Nyeri ulu hati.
Konstipasi atau diare.
Sakit kepala.
Mual.
Muntah.
saya akan menjawab pertanyaan nomor 5 . Antipiretik
BalasHapusAntipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
Antiinflamasi
Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat-zat mikrobiologik. Inflamasi adalah usaha tubuh untuk mengaktifasi atau merusak organisme yang menyerang, menghilangkan zat iritan, dan mengatur derajat perbaikan jaringan. Jika penyembuhan lengkap, proses peradangan biasanya reda. Namun kadang-kadang inflamasi tidak bisa dicetuskan oleh suatu zatyang tidak berbahayaseperti tepung sari, atau oleh suatu respon imun, seperti asma atau artritisrematid. Antiinflamasi adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan peradangan
Umumnya cara kerja analgetik-antipiretik adalah dengan menghambat sintesa neurotransmitter tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Dengan blokade sintesa neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi mendapatkan “sinyal” nyeri,sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang.
Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yan disebut mediator nyeri (pengantara). Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangang dialaihkan melalui syaraf sensoris ke susunan syaraf pusat (SSP), melalui sumsum tulang belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana rangsang terasa sebagai nyeri.
1.
BalasHapusanalgetik narkotik contohnya morfin
mekanisme kerja
Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors. Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar (Mutschler, E. 1999).
analgetik non narkotik contohnya asam mefenamat
mekanisme kerja
Mekanisme Kerja
1. Analgesik. Analgetika non narkotik menimbulkan efek analgesik dengan cara menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat yang mengkatalis biosintesis prostaglandin, seperti siklooksigenase, sehingga mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit, seperti baradikinin, histamin, serotonin, prostasiklin, prostaglandin, ion-ion hidrogen dan kalium, yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
2. Antipiretik. Analgetika non narkotik menimbulkan kerja antipiretik dengan meningkatkan eliminasi panas, pada penderita dengan suhu badan tinggi, dengan cara menimbulkan dilatasi buluh darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
3. Antiradang. Analgetika non narkotik menimbulkan efek antiradang dengan menghambat biosintesis dan pengeluaran prostaglandin dengan cara memblok secara terpulihkan enzim siklooksigenase sehingga menurunkan gejala peradangan (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
2.
BalasHapusmekanisme kerja morfin bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors. Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar (Mutschler, E. 1999).
Efek Samping morfin
BalasHapusDengan frekuensi kejadian > 10%
Pruritus (?80%)
retensi urin (epidural / IT) (15-70%)
Muntah (7-70%)
Sembelit (> 10%)
Sakit kepala (> 10%)
Mengantuk (> 10%)
Dengan frekuensi kejadian 1-10%
Nyeri perut (5-10%)
Asthenia (5-10%)
Sakit punggung (5-10%)
Depresi (5-10%)
Diare (5-10%)
Dyspnea (5-10%)
Demam (5-10%)
Insomnia (5 -10%)
Kehilangan nafsu makan (5-10%)
Mual (5-10%)
Paresthesia (5-10%)
edema perifer (5-10%)
Ruam (5-10%)
Berkeringat (5-10%)
Xerostomia (5-10%)
depresi pernafasan (IT) (4-7%)
Kecemasan (6%)
Pusing (6%)
hasil abnormal tes fungsi hati (<5%)
Amblyopia (<5%)
Cegukan (<5%)
Hipotensi ortostatik (<5%)
Sinkop (<5%)
retensi urin (PO) (<5%)
Dengan frekuensi kejadian <1%
Depresi pernafasan (epidural) (0,25-0,4%)
Frekuensi Tidak Ditetapkan
Anafilaksis (jarang)
Gagal jantung
Depresi sirkulasi
Tekanan intrakranial meningkat
Ileus
Sensasi melayang
Rasa tidak enak
Miosis
Mioklonus
Syok
Gangguan berpikir
Vertigo
3. salah satu analgetik non narkotik adalah asam mefenamat
BalasHapusSEDIAAN:
Tablet 250 mg, 500 mg
Kapsul 250 mg, Kaplet 500 mg
5.
BalasHapusAntipiretik. Analgetika non narkotik menimbulkan kerja antipiretik dengan meningkatkan eliminasi panas, pada penderita dengan suhu badan tinggi, dengan cara menimbulkan dilatasi buluh darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat (Siswandono dan Soekardjo, 2008). contoh obat PCT
Antiradang. Analgetika non narkotik menimbulkan efek antiradang dengan menghambat biosintesis dan pengeluaran prostaglandin dengan cara memblok secara terpulihkan enzim siklooksigenase sehingga menurunkan gejala peradangan (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
contoh obat asam mefenamat
6.
BalasHapusAspirin dengan
ACE inhibotor: menurunkan efek antihipertensi
Antasida: menurunkan konsentrasi salisilat
Kortikosteroid: meningkatkan risiko ulkus dari GI dan meningkatkan ekskresi salisilat
Diltiazem: meningkatkan efek antiplatelet
Anikoagulan: meningkatkan risiko perdarahan
7.
BalasHapusdimetabolisme dalam plasma
dieliminasi melalui urin
8. boleh, asalkan digunakan dengan dosis yang sesuai
BalasHapusmenurut beberapa artikel, biasanya analgetik non narkotik dapat dikombinaskan dengan analgetik narkotik jika tujuannya untuk meringankan efek samping dari analgetik narkotik, misalnya ES terhadap lambung.
9.
BalasHapusKulit manusia memiliki tiga lapisan, yaitu; epidermis, dermis dan hipodermis. Lapisan pertama disebut epidermis atau biasa disebut kulit ari. Lapisan epidermis merupakan lapisan kulit bagian teratas pada kulit manusia. Nah di lapisan pertama inilah koyo ditempelkan. Lapisan kedua kulit disebut dermis, yang terdiri dari dari pembuluh darah, kelenjar minyak, folikel rambut, ujung-ujung saraf indra, dan kelenjar keringat. Di lapisan kulit ini koyo mengirimkan obat ke lapisan terdalam.
Sedangkan lapisan kulit ketiga adalah jaringan subkutan yang merupakan lapisan kulit lemak atau jaringan ikat yang terletak di bawah lapisan dermis yang mana merupakan tempat penyimpanan lemak dalam tubuh. Di dalam lapisan ini kandungan obat yang terkandung pada koyo diserap melalui pembuluh darah ke dalam aliran darah. Dari situ, darah membawa obat melalui sistem peredaran darah dan menyebarkan ke tubuh Anda.
No 8, menurut saya analgetik narkotik dan non narkotik dapat dikombinasikan, saat ini banyak penggunaan kombinasi dari analgetik tersebut, contonya kombinasi kodein-parasetamol. menurut saya kombinasi obat ini tidak berbahaya, asal digunakan sesuai dosis dan cara pemakain yang seharusnya
BalasHapusSaya ingin menjawab pertanyaan nomor 6.
BalasHapusSalah satu contohnya aspirin. Aspirin dan Antasida yaitu antasida meningkatkan pH urine sehingga klirens salisilat meningkat dan dosis salisilat dalam darah menurun.
Hay tami, saya ingin menambahkan. Ikatan Van der Waals dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu ikatan antar molekul yang memiliki dipol, ikatan antara molekul yang memiliki dipol molekul yang tidak memilki dipol, serta ikatan antarmolekul yang tidak memiliki dipol (Gaya Dipersi London). Gaya Van der Waals terjadi pada senyawa polar yang tidak membentuk ikatan hidrogen, seperti HCl, HBr, atau senyawa nonpolar yang memilki sedikit perbedaan keelektronegatifan. Kekuatan gaya van der waals lebih kecil dibandingkan dengan ikatan hidrogen. Gaya van der waals yang terjadi di antara dipol – dipol
BalasHapustersusun secara teratur.
Hay tami, saya ingin menambahkan. Ikatan Van der Waals dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu ikatan antar molekul yang memiliki dipol, ikatan antara molekul yang memiliki dipol molekul yang tidak memilki dipol, serta ikatan antarmolekul yang tidak memiliki dipol (Gaya Dipersi London). Gaya Van der Waals terjadi pada senyawa polar yang tidak membentuk ikatan hidrogen, seperti HCl, HBr, atau senyawa nonpolar yang memilki sedikit perbedaan keelektronegatifan. Kekuatan gaya van der waals lebih kecil dibandingkan dengan ikatan hidrogen. Gaya van der waals yang terjadi di antara dipol – dipol
BalasHapustersusun secara teratur.
nomer 3.
BalasHapuscontoh obat analgetik non narkotik adalah asetaminofen/ parasetamol.
bentuk sediaan yang ada berupa tablet,sirup,kapsul,injeksi,suspensi oral.
Aspirin, yang memiliki waktu paruh sekitar 15 menit, dihidrolisis dalam plasma asam salisilat sehingga kadar plasma aspirin mungkin tidak terdeteksi 1 sampai 2 jam setelah pemberian dosis. Asam salisilat, yang memiliki kehidupan plasma setengah dari sekitar 6 jam, adalah terkonjugasi dalam hati untuk membentuk asam salicyluric, glukuronat fenolik salisil, salisil asil glukronat,asam gentisic, dan asam gentisuric. Pada konsentrasi serum yang lebih tinggi dari asam salisilat, pembersihan total asam salisilat menurun karena keterbatasan kemampuan hati untuk membentuk kedua asam glukuronat salicyluric dan fenolik. Setelah dosis aspirin beracun (misalnya,> 10 gram), plasma paruh asam salisilat dapat meningkat menjadi lebih dari 20 jam.
BalasHapusEliminasi: Penghapusan asam salisilat adalah konstan dalam kaitannya dengan konsentrasi asam salisilat plasma. Setelah dosis terapi aspirin, sekitar 75, 10, 10, dan 5 persen ditemukan diekskresikan dalam urin sebagai asam salicyluric, asam salisilat, sebuah glukuronat fenolik asam salisilat, dan glukuronat asil dari asam salisilat, masing-masing. Sebagai pH urin naik di atas 6,5, pembersihan ginjal salisilat bebas meningkat dari kurang dari 5 persen menjadi lebih dari 80 persen. Alkalinisasi urin adalah konsep kunci dalam pengelolaan overdosis salisilat. Pembukaan asam salisilat juga berkurang pada pasien dengan gangguan ginjal.
saya akan menjawab pertanyaan no 5
BalasHapusinteraksi yang menguntungkan: aminoglikosida+penisilin-Berbahaya: barbiturat+alkohol.
Antagonisme, efek farmakologis lebih kecil dari pada penjumlahan 2 obat, interaksi yang menguntungkan: naloksondiopiat overdosis. Interaksi yang berbahaya:AZT+stavudine.
Aditivitas, efek farmakologis sama dengan penjumlahan dari 2 obat, interaksi yang menguntungkan: aspirin+acetaminophen, interaksi yang berbahaya: neutropenia dengan AZT+gansiklovir.
saya akan menjawab pertanyaan no. 6
BalasHapusinteraksi : aspirin dan antasida
Antasida meningkatkan pH urine sehingga klirens salisilat meningkat àdosis salisilat dalam darah menurun
Umtuk jawaban nomor 3. Parasetamol dan ibu profen
BalasHapusEfek samping dari aspirin dapat berupa : Asma, rasa pusing, mual, muntah, pencernaan yg terganggu, gagal ginjal
BalasHapusEfek samping peroksikam dapat berupa : Perut kembung, nyeri ulu hati, konstipasi atau diare, sakit kepala, mual, muntah.